Arah Kunjungan Wisata di Kukar Bergeser ke Wilayah Sekitar IKN, PAD Kukar Capai Rp60 Miliar
(Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Dinas Pariwisata Kukar, M. Ridha Fatrianta/pic:Tanty)
POSKOTAKALTIMNEWS,KUKAR
: Kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN) mulai mengubah peta pergerakan wisatawan
di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Selama libur Natal dan Tahun Baru
(Nataru) 2025, arus kunjungan wisata dinilai bergeser ke wilayah sekitar IKN.
Sehingga keberadaan
wisata-wisata di Samboja juga menjadi kawasan yang turut terdampak positif atas kunjungan para wisatawan. Hal ini
diungkapkan Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Dinas Pariwisata
Kukar, M. Ridha Fatrianta.
Ia mengungkapkan
tahun 2025 Samboja menjadi wilayah dengan kunjungan wisatawan tertinggi. Hal
tersebut dilihat berdasarkan data penjualan karcis di Pantai Tanah Merah, yang
tercatat sebanyak 11.285 wisatawan mengunjungi kawasan tersebut selama periode
Nataru.
“Ini memang yang
terbesar di daerah Samboja. Kunjungannya cukup tinggi dan tercatat dari
penjualan karcis di Pantai Tanah Merah,” ujar Ridha saat diwawancarai Selasa
(06/01/2026) diruang kerjanya.
Menurutnya,
peningkatan kunjungan tersebut sejalan dengan perubahan pola perjalanan
wisatawan sejak pembangunan IKN. Wisatawan kini cenderung bergerak ke arah
Balikpapan–IKN dan kawasan sekitarnya, dibandingkan menuju pusat wisata Kota
Tenggarong.
“Sejak ada IKN,
pergerakan wisatawan lebih banyak ke arah IKN dan sekitarnya. Ini menunjukkan
adanya pergeseran pola wisata,” jelasnya.
Sementara itu,
destinasi wisata di wilayah Tenggarong relatif stagnan. Pulau Kumala tercatat
dikunjungi sekitar 2.230 wisatawan dengan mayoritas pengunjung berasal dari
wisatawan lokal dan jumlahnya tidak jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari sisi pendapatan,
Ridha mengatakan sektor pariwisata Kukar juga turut memberikan kontribusi
terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“ Secara keseluruhan,
PAD sektor pariwisata Kukar mencapai Rp 60.127.374.428. Namun, PAD yang
dikelola langsung oleh Dinas Pariwisata Kukar tercatat sekitar Rp1,44 miliar,
yang berasal dari retribusi destinasi wisata dan masih dalam tahap
rekonsiliasi,” katanya.
“ Bisa dibedakan
antara PAD sektor pariwisata dengan PAD yang dikelola oleh Dispar, cuma ini
masih rekonisasi. Masih rekonisasi, kita juga bersama teman-teman masih
mencatat sekian tahun dari tahun ini, sekian bulan dari tahun ini,” tambahnya.
Ridha menjelaskan
bahwa kecilnya angka PAD Dispar tidak mencerminkan keseluruhan kontribusi
sektor pariwisata, karena pendapatan sektor pariwisata juga berasal dari sektor
lain seperti hotel, restoran, dan rumah makan yang dikelola oleh perangkat
daerah berbeda.
“Kalau hanya melihat
PAD yang dikelola Dispar, terlihat kecil. Padahal sektor pariwisata itu
cakupannya luas,” terang Ridha.
Ridha menilai
perolehan PAD tahun lalu juga
dipengaruhi adanya efisiensi yang merupakan kebijakan dari pusat, sehingga hal
tersebut sangat dirasakan dampaknya.
“ Terus
pembatasan-pembatasan kegiatan beberapa pemerintah daerah di sekitar Kukar juga
itu sangat mempengaruhi ya, terkait okupansi hotel, restoran dan sebagainya,”
terang Ridha.
Meski demikian Ridha tetap berharap beberapa potensi-potensi pengolahan tempat wisata, baik itu dikelola masyarakat, pemerintah, maupun juga swasta dapat terus berkembang dan menciptakan daya tarik yang berinovasi terus-menerus seperti itu.
“ Mudah-mudahan juga
kondisi keuangan daerah ke depan ini bisa membaik lagi karena memang tidak bisa
kita mungkiri ternyata adanya efisiensi dan pembatasan kegiatan-kegiatan itu
sangat berpengaruh terhadap sektor pariwisata,” tutup Ridha. (Tan).